Selasa, 16 Oktober 2012

Rumah Sewa #1

Created by bhodonk
Punya rumah sendiri dan hidup mandiri setelah menikah mungkin sudah menjadi impian setiap insan, tapi terkadang impian tersebut harus di pendam sementara bahkan pupus karena keterbatasan modal. Kalau sudah begini dengan sangat terpaksa dan harus di jalananin adalah hidup serumah dengan orang tua atau mertua, tinggal di kos - kosan atau rumah kontrakan, bahkan ada yang harus rela tinggal di kolong jembatan dan dilahan - lahan kosong yang tak bertuan. Harapan dan impian untuk memiliki rumah sendiri juga pernah kami rasakan sebagai pasangan yang baru menikah dan ingin hidup mandiri.


Waktu itu bulan oktober tahun 2008, kami melangsungkan pernikahan dengan seorang gadis desa di kabupaten yang terkenal dengan industri gentengnya. Setelah pesta pernikahan itu selama satu minggu saya tinggal dirumah mertua sambil menunggu waktu pulang ke kotaku sendiri, untuk mengadakan acara resepsi dirumahku. Selama seminggu itu kami dirumah yang kami lakukan hanya, makan, nonton televisi, jalan - jalan dan malamnya tidur, karena saya tidak punya pekerjaan di desa tempat tinggal istriku. Terkadang saya bingung harus ngapain ketika pagi hari hingga sore menjelang, perasaan malu pada mertua selalu muncul dibenak ini karena tidak kesibukan yang berarti, mungkin mereka maklumi keadaan ini.
Satu minggu berlalu tibalah saatnya kami berangkat ke rumah asalku,yang jaraknya 5 kabupaten ke arah timur dari tempat kelahiran istriku. Kami diantar oleh keluarga besar istriku menggunakan mobil ELF punya rental, diperjalan mobil yang kami tumpangi sempat mengalami kendala macet dan kami menunggu hingga mobil penggantinya datang.
Setelah hampir seharian di jalan akhirnya kami sampai di tempat tujuan dan disambut oleh keluargaku, sejenak mereka beristirahat sambil menunggu acara resepsi pernikahan dimulai, setelah acara itu dimulai hingga selesai akhirnya rombongan kelurga mertuaku pulang meninggalkan kami dengan rasa haru dan tangis.

Sejak itu kami memulai kehidupan sebagai keluarga kecil dan tinggal bersama ortuku disebuah kamar kecilku, hingga akhirnya ortuku membuatkan sebuah rumah kecil di sisa lahan sebelah rumah dengan ukuran +- 2 x 4 meter dan seadanya, bagi kami sudah cukup karena hanya berduan saja ( aku dan istriku ).
Meski sudah beda rumah dengan kamar mandi dan dapur yang beda pula, tapi bagi istri ( yang orang baru dirumah ku ) ada saja sesuatu yang buat rasa tidak nyaman untuk melakukan sesuatu karena masih belum mengenal watak dan sifat satu sama lain.
Tapi aku selalu mengatakan pada istriku untuk selalu positif thinking dan terima apa adanya, hingga dia mulai memahami ini semua. Beberapa bulan berlalu kami masih belum dikaruniai anak, kami tidak pernah kecewa dan terus mencoba, hingga kami mendapatkan nasehat dari anggota keluargaku mungkin karena faktor lelah yang menyebabkan kami sulit punya anak, karena setiap hari aku harus pergi pulang kerja mengendarai motor ke luar kota yang memakan waktu tempuh +- 2 jam setiap hari dengan kondisi jalan yang kurang bagus dan arus kendaraan yang juga padat.

Setelah kami pikir dan berembuk akhirnya kami memutuskan untuk mencari rumah yang dekat dengan tenpat kerjaku, awalnya kami ingin mengontrak sebuah rumah akan tetapi karena keterbatasan modal akhirnya kami putuskan untuk sementara kost dulu. Beberapa hari saya cari kos-kosan yang sesuai dengan budget kami dan bisa ditempatin untuk keluarga, karena kebanyakan tempat kos disini tidak boleh bawa anak istri, akhirnya kami menemukan tempat yang sesuai yg kami mau yakni boleh bawa istri dan juga boleh bawa alat masak. Di tempat tersebut kebetulan ada dua kamar yang kosong, satu didalam rumah inti pemilik kos dan satu lagi di ruangan sebelah garasi mobil yang kebetulan ukuran kamarnya lumayan lebar, dan kami pilih yg dekat garasi agar bisa sedikit bebas dan kami mulai hidup baru ini dari sini meski beresiko bising bunyi kendaraan keluar masuk garasi. Di ruangan sederhana samping garasi inilah kami melakukan semuanya, mulai urusan tidur, masak, hingga makan semuanya kami lakukan. Kami meng-istilahkan " All in One ", maksutnya adalah Kamar sekaligus ruang tidur, Dapur dan ruang makan.
Namanya juga hidup berdampingan dengan orang yang seluruhnya baru kami, ada saja sesuatu yang buat kami tidak nyaman tinggal disini, mulai dari tetangga kos hingga pemilik kos yang kadang orangnya enak kadang juga tidak enak ( mood- mood tan ). Tapi kami memilih untuk cuek aja karena kami punya prinsip berbeda dan jalanin hidup kami apa adanya.

Akhirnya apa yang kami impikan untuk memiliki momongan dengan cara sewa rumah dekat tepat kerja ada hasilnya dan akan menjadi kenyataan, istriku menelpon mengabarkan kalau dirinya telat datang bulan dan memintaku untuk membelikan testpack.
Sore ketika pulang kerja dengan perasaan happy aku mampir ke apotik untuk beli testpack, sesampainya di rumah kos langsung aku serahkan ke istriku dan memintanya untuk mengetes kehamilannya, dan testpack itu memberi kabar kabar baik pada kami ( ssstttt ... istriku positif hamil ).
Tapi kami masih belum begitu yakin dan kami berencana mendatangi bidan terdekat dengan rumah kos kami, setelah bertanya- tanya ke teman akhirnya kami diberi tahu alamat bidan terdekat dan katanya orang enak. Keesokan harinya kami datangi bidan itu dan berkonsultasi mengenai keakuratan kehamilan istriku, lagi - lagi berita baik yang kami dapatkan. Alhamdulillah ....... Kami sangat bersyukur pada- Nya karena impian kami dikabulkan-Nya.

Setelah beberapa bulan berlalu dan perut istriku sudah mulai membesar, kami selalu berhati - hati dalam segala hal, mulai dari hal makanan, aktifitas hingga mitos- mitos yang berkaitan dengan masalah kandungan aku jaga benar,meski sebenarnya aku pribadi kurang percaya dengan mitos- mitos itu.
Karena bayi yang ada dalam kandungan istriku adalah impian dan anugerah dari Allah SWT yang harus kami jaga, aku selalu saranin istriku untuk selalu makan sayuran,buah - buahan meski tidak sering dan minum susu untuk kesehatan bayi dan ibu. Dasar emang istriku ga doyan susu, tetep aja dia tidak mau meski sudah dirayu dengan berbagai cara dan gaya.
Dan hingga kandungan istriku mendekati sembilan bulan, kalau tidak salah waktu itu tidak lebih dari bulan menjelang prediksi kelahiran anak pertama kami.
Kami memutuskan untuk hengkang dari rumah kos dan kembali ke rumah ortuku, karena dari awal kami sudah berniat untuk melahirkan anak kami di kota kelahranku dengan pertimbangan agar dekat dengan keluarga dan ada yang bantu proses kelahiran jika seandainya aku pas tidak ada dirumah.

Sambil menuggu detik - detik kelahiran bayi yang ada dalam kandungan istriku, kami menjalanin kehidupan seperti biasanya di rumah kecilku lagi yang dulu aku tinggalkan dan aku lagi - lagi harus pergi pulang kerja mengendari motor dengan jarak tempuh dua jam setiap harinya, tapi kali ini aku tidak masalah karena apa yang kami harapkan sudah hampir tercapai, sesekali aku naik bus kalau badan sudah terasa capek dan pegal - pegal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tulis Komentar Anda but No Pornografi, No SARA, No Spam, No Alkohol, No Smoking, No RASIS.
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda & Keep Smile !!! :)